Pamitku, Pergimu.
Aku belum pernah selelah ini; pada sebuah titik serasa cukup untuk diam tanpa suara, menggadai tangis yang harusnya telah pecah diiris-iris rindu padamu. Aku lelah. Aku putuskan untuk meletakkan, entah sampai ke detik berapa.
Benar mungkin ya?
Aku pamit keluar dari hatimu, lalu pergilah sesegar rinai hujan di senja - yang menyisa lengkung warna timur langitku - dan mengalirlah sejauh yang sanggupmu; atau singgah saja di kelopak teratai sebelum sungai mengalirkanmu jauh ke hilirnya.
Tenangkan aku dengan mentari yang kau cerahkan - atau mendung yang kau senandungkan, yang meneduh kelelahanku hingga aku siap menangkapmu di hujan berikutnya.
Akan kulepas payungku untuk biarkan kau jatuh di kening dan pundak; sampai kau setenang itu.
Benar mungkin ya?
Aku pamit keluar dari hatimu, lalu pergilah sesegar rinai hujan di senja - yang menyisa lengkung warna timur langitku - dan mengalirlah sejauh yang sanggupmu; atau singgah saja di kelopak teratai sebelum sungai mengalirkanmu jauh ke hilirnya.
Tenangkan aku dengan mentari yang kau cerahkan - atau mendung yang kau senandungkan, yang meneduh kelelahanku hingga aku siap menangkapmu di hujan berikutnya.
Akan kulepas payungku untuk biarkan kau jatuh di kening dan pundak; sampai kau setenang itu.
Lagi.
Comments
Post a Comment